Jalan Anoa II dan Jati II berganti nama menjadi Jalan Lalove

oleh -290 views

Liputanpalu. com – Sehubungan dengan terbukanya Akses Jalan utama Jembatan V Palu yang menghubungkan Antara Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tatura Utara maka Pemerintah Kota Palu Melalui BPBD Kota Palu yang didukung oleh Sejumlah Tokoh masyarakat dan ormas setempat telah bersepakat melakukan perubahan nama kedua Jalan tersebut

Sekretaris BPBD Kota Palu Irsan Sidjo, S. Sos kepada media ini menuturkan bahwa penamaan Jalan ini yang diambil dari kearifan Lokal masyarakat kaili dengan sebutan Jalan Lalove tersebut telah mendapat persetujuan dari Bapak Walikota Palu

” Kita Sudah menerima Arahan dari bapak Walikota Palu tentang letak penempatan papan namanya, ucapnya

Kata Irsan Sebelumnya nama Jalan ini ada 2 yakni, Jalan yang berada dikelurahan Nunu bernama Jalan Jati II dan yang di kelurahan tatura Utara bernama Jalan Anoa II.

Dia menjelaskan bahwa Saat ini nama kedua jalan tersebut telah di ganti menjadi jalan Lalove dan dikedua arah jalannya telah terpasang papan nama

” Kami bersama sejumlah Tokoh masyarakat dan Ormas Pordeo 83 kelurahan Nunu turun langsung memasang papan nama jalan lalove itu pada Sabtu (23/5) dini hari tadi. ucap Irsan

Baca Juga  UMK Kota Palu Tahun 2019 Mengalami Kenaikan Pasca Bencana

dia menambahkan bahwa Jalan Lalove yang akan berbatasan dengan jalan Emi Saelan ditatura utara dan jalan Jati di kelurahan Nunu tersebut diperkirakan berukuran panjang 1 Kilometer,

” Jadi, terkait akses Jalan yang menghubungkan kedua kelurahan ini, sudah siap untuk di lintasi hanya saja belum tembus, karena tinggal menunggu proses penyelesaian Pembangunan Jembatan V Palu yang direncanakan dalam waktu beberapa bulan kedepan ini akan segera rampung, tutup Irsan

Lalove sebagaimana dikutip dari Laman https://Kebudayaan.Kemdikbud. go. id berasal dari kata Love (bahasa kaili) tempo dulu yang berarti suara yang mengalun sayup sayup terdengar menerawang dari kejauhan. dimana Sumber Informasi tersebut menyepadankan “love” dengan kata nggose yang berarti siulan, bunyi mendesah yang menarik perhatian atau memanggil.

Namun Love dalam pengertian bahasa kaili saat ini diartikan sebagai burung elang. Pada lingkungan tempat tinggal masyarakat kaili, burung sering berkicau atau mengeluarkan suara diketinggian pepohonan bamboo atau dari kejauhan. Masyarakat kaili tidak mengenal kebiasaan memelihara burung dalam sangkar

Baca Juga  WIDYA PONULELE DINILAI MAMPU BANGUN KEPEMUDAAN DISULTENG

lalove itu adalah hasil dari kebudayaan setempat yang lingkungan tempat tinggalnya banyak ditumbuhi bamboo. Sehingga bukan hal yang aneh bila mereka membuat sebuah alat music dari bamboo. Artinya dapat diduga bahwa lalove adalah peniruan dari bunyi dihasilkan dari pepehonan bamboo yang kebetulan berlubang dan ditiup oleh angin.

Lalove juga memiliki kisah erat yang berkaitan dengan legenda sawerigading yang sedang melakukan perjalanan ditanah Kaili.alkissah , ketika sawerigading ingin meminang Ngilinayo,Raja wanita dari kerajaan Sigi, salah satu syarat lamaran yang diajukan oleh Ngilinayo adalah diadakannya adu ayam antara ayam milik sawerigading dan ayam milik Ngilinayo. Untuk memeriahkan acara adu ayam tersebut, maka dibunyikanlah alat alat music yang dibawa oleh sawerigading termasuk Lalove. Ternyata suara lalove dapat mengungah/ memanggil orang-orang untuk datang ketempat adu ayam tersebut bahkan yang sedang sakit pun datang menghadiri.(LP-MID)